RBC Lattice 3 Dimensi

RBC Lattice 3 Dimensi

Rotating Biological Contactor Type Lattice 3 Dimensi

Pertama kali diciptakan di Jerman pada dekade 60-an, RBC konvensional awalnya ditujukan untuk mengatasi masalah pengolahan air limbah yang selama ini di hadapi negara - negara maju di eropa, yang mana sampai saat itu mereka hanya mengenal teknologi pengolahan air imbah yang bekerja secara aerobik, dan yang dikenal paling efektif adalah IPAL dengan teknologi lumpur aktif (activated sludge). Teknologi lumpur aktif memang cukup efektif, akan tetapi teknologi ini memiliki beberapa kelemahan, diantaranya konsumsi energi yang sangat besar dan membutuhkan lahan yang luas; biaya pembangunan IPAL dengan teknologi lumpur aktif terbilang mahal. Oleh sebab itu, teknologi pengolahan air limbah dengan lumpur aktif, hanya cocok diterapkan bagi pengolahan air limbah dalam skala industri yang besar atau sangat besar, terlebih lagi operasional IPAL jenis ini membutuhkan tenaga operator professional yang berpendidikan cukup tinggi. 

Dalam usaha untuk meningkatkan efisiensi pengolahan air limbah, dan mengurangi konsumsi energy serta mengatasi beberapa kelemahan system pengolahan yang sebelumnya dihadapi, maka dirancanglah sebuah alat yang bekerja dengan prinsip yang sama sekali berbeda dari teknologi sebelumnya, yaitu Rotating Biological Contactors (RBC). Cara kerja alat ini adalah dengan mengontak-kan koloni mikroba aerobic yang tumbuh melekat pada permukaan RBC dengan substrat (yang mana adalah zat pencemar yang ada pada air limbah) sebagai “makanan” bagi mikroba tersebut, dan kemudian dikontakkan lagi dengan udara (karena mikroba aerobic membutuhkan udara) secara berulang – ulang (periodic).

Untuk itu, RBC dirancang dalam bentuk silinder yang berputar pada porosnya. Sebagian RBC tercelup ke air (limbah) dan sebagian terpapar udara, dan dengan berputarnya RBC maka terjadi perganitan antara bagian yang tercelup dan terpapar udara tersebut.

Ada banyak jenis RBC di dunia, masing – masing produsen membuat RBC secara bervariasi dari segi dimensi dan materialnya. Dari semua jenis RBC tersebut semuanya bekerja secara dua dimensi, artinya kemampuan ataupun kapasitas pengolahannya dihitung berdasarkan luas penampang media RBC tersebut, misalnya luas media total sebesar X, dapat mengolah sejumlah A kg BOD/hari. Untuk lebih memaksimalkan efektifitas RBC, mulai tahun 2000, Yayasan Dian Desa (Yogyakarta) bekerja sama dengan Asian People Exchange (dari Tokyo) melakukan berbagai riset pengembangan teknologi RBC hingga lahirlah RBC Lattice 3 Dimensi. Jenis ini memiliki kelebihan dari kemampuannya menerima dan mengolah air limbah dengan organic loading yang jauh lebih besar daripada RBC konvensional. Parameter efektifitas tidak lagi berdasarkan pada luas penampang, namun terhadap volumetric RBC tersebut. Misalkan RBC dengan volume Y, dapat mengolah B kg BOD/hari.

Alat RBC Lattice 3 Dimensi ini dirancang dengan standard Jepang, dimana kualitas material sangat diperhatikan. Biasanya, permasalahan yang sering ditemui pada mesin RBC yang konvensional, diantaranya media kontaktor yang sering rusak padahal masih baru, sumbu (shaft/as) berkarat dan patah, dan lain sebagainya. Pada RBC Lattice 3 D, hal – hal demikian tidak terjadi. Adapun material kontaktor yang digunakan terbuat dari material super durable, yang dibuat dari polymer dengan kepadatan tinggi.